1Kane berhenti sejenak. Ingatan penting mengenai gua ini membuatnya jadi tegang. "Cerita tentang penemuan ini dirahasiakan karena di catatan itu mengandung rahasia berbahaya yang menunjukkan lokasi teknologi penghancur kuno disembunyikan. Setelah wilayah ini menghilang tanpa jejak, orang-orang yang terlibat juga ikut menghilang. Tapi, ada seseorang yang masih hidup meninggalkan cerita yang setengah jadi. Beberapa saksi mata sempat mendengar tentang rahasia besar ini, tapi tidak ada yang bisa memberikan gambaran lengkap. tempat itu menjadi salah satu misteri terbesar di dunia kita."

Valen, yang berdiri di dekatnya, bertanya dengan penasaran, "Komandan, apakah hal yang kamu maksud tentang bencana besar yang membuat sebuah wilayah tenggelam dan menjadi lautan?"

Kane menarik napas dalam, matanya bersinar dengan kilatan pemahaman. "Sekarang aku mengerti. Wilayah yang hilang itu tidak tenggelam ke lautan. Ia pindah ke dimensi ini. Dan mineral itu seharusnya masih ada disini. Itu alasan kenapa tempat ini memiliki begitu banyak energi elektromagnetik."

"Lalu bagaimana dengan catatan itu? Bukankah seharusnya pemerintah memiliki salinannya?" Tanya Freya penasaran.

Kane menggelengkan kepalanya."Setelah pulau ini menghilang, pemerintah menganggap ini adalah pertanda bahwa rahasia itu tidak seharusnya ditemukan karena membahayakan kelangsungan hidup manusia, sehingga mereka memusnahkan semua salinan catatan yang tertulis di gua ini, dan meninggalkan hanya jejak informasi mengenai terdapat wilayah yang menghilang akibat bencana dan tenggelam."

Freya, yang sibuk memeriksa gambar lainnya, menunjuk sebuah lingkaran besar yang dikelilingi oleh lima simbol, mirip seperti gambar yang mereka lihat pertama kali. "Lihat ini. Lingkaran ini tampak seperti peta, atau kunci."

"Lima simbol…" gumam Valen sambil memiringkan kepalanya. "Apa mungkin mereka mewakili sesuatu?"

Freya melanjutkan memeriksa, kali ini menunjukkan gambar lain yang lebih kecil. "Komandan, lihat ini." Ia menunjuk sebuah gambar seseorang yang membawa tongkat bercahaya, berjalan melalui lorong panjang dan terdapat simbol-simbol di sampingnya. "Ini sepertinya menggambarkan seseorang yang melewati tempat ini."

"Dan lihat di sini," tambah Valen, menunjuk gambar lain yang memperlihatkan pintu besar dengan lima lubang kecil di dalamnya. "Ini seperti pintu masuk"

"Jika kita bisa membawa informasi ini kembali ke dunia kita…" pikir Kane.

Kane menatap Freya, matanya dingin. "Rahasia ini sudah ditakdirkan untuk kita temukan. Ketika kita kembali ke dunia kita, kita akan membawa rahasia ini bersama kita."

Freya mengangguk. "Itu akan menjadi revolusi besar. Tapi kita harus hati-hati. Informasi ini terlalu berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah."

Leena, yang mendengar percakapan mereka, akhirnya berbicara dengan tegas. "Kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi. Pemerintah kalian mengubur rapat-rapat rahasia ini karena berbahaya untuk kelangsungan hidup manusia. Jika kalian mencoba menggali rahasianya, kalian mungkin akan membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur."

Kane mendekatinya, suaranya dingin dan mengancam. "Ini bukan urusanmu. Tutup mulutmu! Jangan lupa bahwa nyawamu dan seluruh suku ini ada di tanganku."

Leena menatap Kane dengan keberanian yang tersisa. "Aku hanya memperingatkanmu. Seperti ceritamu tadi, jika kalian melangkah terlalu jauh, tidak hanya kalian, tapi seluruh manusia mungkin akan dalam bahaya."

Kane tersenyum dingin. "Kamu tidak perlu memikirkan sejauh itu. Pikirkan hidupmu sendiri saat ini."

Setelah sekitar satu jam, perangkat elektronik mereka mulai menyala kembali secara perlahan. Freya memeriksa alatnya dan mendapati bahwa gelombang elektromagnetik di sekitar mereka mulai mereda.

"Kane, perangkat kita kembali aktif," lapor Freya.

Kane tersenyum tipis. "Bagus. Sekarang kita bisa mencatat semua yang ada di sini dan membawanya kembali."

Dia memandang ukiran di dinding dengan perasaan campur aduk. "Aku tidak percaya kita menemukan ini. Ini adalah sejarah besar yang hilang dari dunia kita."

Namun, dalam pikirannya, Kane memiliki rencana tersendiri untuk menggali dan menemukan rahasia yang dimaksudkan untuk kepentingan dirinya sendiri..

"Ini hanya permulaan," gumamnya pelan, mata tajamnya memandang jauh ke depan. "Aku akan menemukan rahasia yang tersembunyi di balik semua ini."

***

Sementara Kane dan rombongannya sibuk dengan penemuan besar mereka, Sherly berada di tangan Ruvan, yang membawanya ke Suku Monrest.

Ruvan memandang Sherly dengan senyum licik. “Kau adalah kunci untuk membangkitkan leluhur kami. Dengan ini, rencana besar kami akan bisa segera terlaksana.”

Sherly, yang terikat dan tak berdaya, hanya bisa menatap Ruvan dengan mata penuh kebencian. Namun, dalam hatinya, dia bersumpah untuk menemukan cara untuk bertahan hidup dan melarikan diri dari situasi ini.

***

"Komandan, kami sudah merekamnya." Kata Freya."Tapi ada bagian aneh yang kami temukan."

Freya lalu membuka layar monitornya dan menunjukkan kepada Kane, "di catatan ini terdapat peta dan jalur yang menyerupai lokasi wilayah ini, tapi jika dilihat dari gambar pulau yang kita miliki, terdapat perbedaan. Sepertinya pulau ini memiliki banyak rahasia di dalamnya."

"Kita akan pikirkan nanti setelah menemukan Milo dan kembali ke tempat kita dengan peralatan lebih lengkap. Sekarang kita lanjutkan misi kita." Kata Kane sambil memandang Leena."Lanjutkan perjalanan!"

Leena memimpin kembali rombongan menuju lokasi jasad Milo. Leena berusaha mengingat arah, karena saat itu, dia dan Lynx tidak sengaja menemukannya sehingga mereka tidak sempat memberi tanda.

"Kemana arah lorong ini?" Tiba-tiba Kane bertanya. Dia melihat jejak dan sebuah tanda yang menunjuk ke sebuah lorong.

"Lorong ini menuju ke tambang bijih besi." Kata Leena menjelaskan.

"Kita kesana terlebih dahulu!" Perintah Kane.

Kane ingin fokus kepada misi, namun dia juga harus memikirkan solusi untuk dapat keluar dari tempat ini. Harapan mereka, Milo, jika benar sudah tiada, dia harus mendapatkan solusi lainnya untuk dapat menghubungi satelit di dimensi mereka, dan salah satu harapannya ada kepada Lala. Karena itu dia harus memahami situasinya.

Kane memimpin rombongannya ke bagian dalam tambang tempat bijih besi ditemukan. Dinding lorong dipenuhi dengan bekas menambang dan alat manual yang suku SInto lakukan.

Freya memeriksa potongan bijih besi yang tertinggal di salah satu sudut. “Ini luar biasa. Bentuknya sangat mirip dengan bijih besi biasa, tapi jelas lebih halus. Sifat konduktifnya tinggi, ini benar-benar sumber energi utama.”

Darius, yang berjaga di dekatnya, menggumamkan kekagumannya. “Jadi inilah dasar dari semua teknologi kita saat ini.”

Kane hanya mengangguk singkat, terlalu fokus untuk berbicara. Matanya tajam memeriksa setiap sudut tambang, mencoba menemukan petunjuk lebih lanjut.

“Jika kita bisa membawa ini kembali,” katanya akhirnya, “dunia kita akan mendapatkan sumber energi yang tak ternilai.”

"Benar komandan, mineral murni yang dunia kita miliki sangat sedikit. Kita menggunakan mineral buatan yang kekuatannya masih di bawah mineral asli." Kata Freya.

"Kita lanjutkan perjalanan kita!" Perintah Milo setelah selesai memeriksa. Kane berharap dia dapat menemukan informasi penting mengenai penelitian yang menjadi tujuan utama misi mereka sebagai pengganti profesor Milo.

Mereka meninggalkan tambang bijih besi dan melanjutkan perjalanan ke lorong tempat Milo ditemukan. Leena berjalan di depan, wajahnya tegang.

Setelah beberapa kali salah memasuki lorong dan bertemu dengan membunuh beberapa monster, Kane marah dan menangkap leher Leena dengan keras. "Jangan mempermainkan kami. Semua suku kalian akan kami musnahkan jika kamu sengaja mengulur waktu dan tidak segera mengantar kami ke tempat Milo."

Leena menghirup napas dalam-dalam setelah Kane melepaskan pegangannya. "Aku menemukan tempat itu secara tidak sengaja saat melarikan diri dari kejaran monster. Beri aku waktu untuk dapat menemukannya."

Mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dan beberapa saat kemudian, “Di ujung lorong ini,” kata Leena dengan suara pelan, “itulah tempat kami menemukan jasad Milo. Aku ingat tempat ini, penuh dengan jaring laba-laba. Tapi aku sudah memperingatkan kalian… makhluk laba-laba di sana sangat banyak. Mereka sangat agresif dan sangat berbahaya.”

“Tidak masalah,” jawab Kane dingin. “Kita siap untuk apa pun.”

Kane memberi aba-aba kepada prajuritnya untuk berhati-hati dan mengendap-endap. Dinding gua dan sekitarnya dipenuhi dengan sarang laba-laba raksasa, dan suara gemerisik dari makhluk-makhluk yang tidak terlihat semakin membuat suasana mencekam.

“Tempat ini… benar-benar mengerikan,” gumam Darius sambil menggenggam senjatanya dengan erat.

